tentang ke-bugis-anku, serta kehebatannya dimasa lalu.
terkadang aku merasa lebih bugis dari orang bugis yang
dari sulawesi. aneh, pada hal aku sendiri belum pernah
menginjakkan kakiku di tanaugi.
Paling cerita tentang tana ugi hanya aku dapatkan dari
Almarhum Kakekku yang pelaut, dan Nenekku. sedang dari
kedua orang tuaku, mereka meninggal sulawesi sejak
masih kecil.
Beberapa waktu kemaren aku mendapatkan ulasan buku
tentang Antlantis the lost continent finally found.
penulisnya prof. Dos Santos, mengatakan bahwa atlantis
yang hebat itu, ada di indonesia.
banyak netter yang tidak percaya, tetapi ada juga
percaya. salah seorang pengarang indoensia es ito,
membuat novel dengan latar belakang atlantis judulnya
"Negara Kelima". (tapi aku belum baca), dan ia
menyatakan letak Atlantis tepatnya ada di Nagari
pasundan. dan ia sendiri mengaitkan dengan sejarah
adat minangkabau. (ulasannya ada di internet)
tetapi aku berpendapat lain, (anggap saja aku bermimpi
tentang masalalu bugis yang hebat ....).
saya sendiri berfikir kerajaan atlantis dahulunya ada
di sulawesi. atau paling tidak dahulunya ini adalah
asal muasal bugis. (Sori bro aku sedikit mulai nggawur
disini... hehehe) dan inilah analisisku:
(1.) Informasi tentang Atlantis, ditemukan pada dialog
antaran Plato, mengenai sebuah pemerintahan yang adil
kerajaan yang sangat adil. semua orang memiliki tempat
yang sama dan sederajat dimata hukum, tapi sayang
kerajaan ini hancur karena bencana alam.
- Perhatikan percakapan to manurung dengan para
pemimpin adat sulawesi masalalu:
Dalam perjanjian pemerintahan (‘governmental
contract’) yang diadakan antara Manurungé ri
Sekkanyili dengan 60 orang Matoa yang mewakili
kawula (rakyat) di tana Soppeng, terdapat pula
rumusan yang membebani kekuasaan raja (datu),
disertai kewajiban guna menghargai martabat
kehormatan (‘siri’) para kawula, berikut ini :
Para Matoa berkata :
— ….
— Mudongiri temmatippa’kkeng (= engkau menjaga
kami dari gangguan burung pipit, maksudnya, raja
wajib menjaga harta benda para kawula dari
gangguan pencuri), musalipuri temmadingikkeng (=
engkau menyelimuti kami agar kami tidak kedinginan,
maksudnya, raja berkewajiban memenuhi
kebutuhan pakaian serta perumahan bagi para
kawula), muwesse temmakapakkeng (= engkau
menyatukan kami bagaikan seikat padi yang tidak
hampa, maksudnya, raja berkewajiban menghimpun
para kawula guna mendapatkan hasil panen yang
melimpah).
— ….
— Namau ana’meng nappattaromeng mutéaiwi, ikkeng
téaitoi (= Walaupun anak serta isteri kami, jikalau
engkau tidak menyukai mereka maka kamipun
tidak mengasihi mereka itu).
Manurungé ri Sekkanyili menjawab :
— Temmubalécore’ ga mennang temmusalangka (=
tidakkah kalian mengacuhkanku kelak serta
menurunkan aku dari tahtaku)?
— …., ia’makkuto, mau ana’ku pattarokumuté aiwi
kutéaitoi (= …., akupun demikian, walaupun anak
serta isteriku, jikalau kalian tidak menyukai mereka
maka akupun tidak mengasihi mereka itu).
(Andi Zainal Abidin, 1984, op.cit.: 160-162, 185,
op.cit.: 308-309. A. Rahman Rahim, 1985, op.cit.:
65-66, H.M. Laica Marzuki, 1995, op.cit.: 151).
Dalam perjanjian pemerintahan (‘governmental
contract’) yang diadakan antara para matoa sebagai
wakil para kawula (rakyat) tana Cina (Bugis) dengan
tokoh Simpurusiang Manurungé ri Lompo juga
terdapat perumusan perjanjian yang membebani
kekuasaan raja, disertai kewajiban menghargai
martabat kehormatan (‘siri’) para kawula (rakyat) yang
mempertuan dirinya, berikut ini :
Para Matoa berkata :
— …..
— Musalipuri temmadingingngi’ (= engkau menyelimuti
diri kami agar kami tidak kedinginan, maksudnya,
raja berkewajiban memenuhi kebutuhan pakaian
dan perumahan bagi para kawula), mudongiri
temmatippa’keng (= menjaga diri kami dari gangguan
burung pipit, maksudnya, raja berkewajiban
menjamin keamanan harta benda para kawula dari
gangguan pencurian dan penjarahan), mubalawoi
temmaéru’keng (= kurang lebih bermakna: merahasiakan
segala sesuatu yang dapat membuat diri
kami menanggung malu), etc… etc.
Simpurusiang Manurengé ri Lompo menjawab :
— Ia’ makkuto, namau ana’ku pattaroku pogau’-gau’
temmupoatuongngi tania male’bi’tania upoatuongngé
(= akupun demikian, walaupun anak dan istriku,
jikalau melakukan perbuatan yang tidak menghidupi
kalian serta tidak memuliakan kalian, niscaya
hal itupun tidak menghidupi diriku).
(Andi Zainal Abidin, 1985, op.cit.: 310-311, 1991,
op.cit.: 15-16, H.M. Laica Marzuki,
1995, op.cit.: 152).
[dikuti dari pidato pengangkatan Guru besar laica
marzuki di UNHAS]
selain itu satu-satunya masarakat atau budaya yang
memberikan tempat terhadap Banci/waria hanya di
sulawesi dengan adanya Bissu.
dan bagi PLATO konsep pemerintahan dan tatanan budaya
kesetaraan jender yang lar biasa ini merupakan UTOPIA.
Analisis selanjutnya, menyusul masih adalagi... tunggu
tak kumpul dulu materinya.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Hasan